Monday, March 15, 2010

Indonesia's Kopi Luwak


The Most Expensive Coffe in The World


K
opi Luwak at its finest...

Kopi Luwak or Civet Coffee is the most expensive coffee in the world, selling for between $120 and $600 USD per pound and is sold mainly in Japan, United States and increasingly throughout other countries.

It came from robusta or arabica coffee beans which have been eaten by and passed through the digestive tract of the Common Asian Palm Civet.

"Kopi" is the Indonesian word for coffee and "Luwak" is local name of this animal which eats the raw red coffee 'cherries' as part of its usual diet.

This animal eats a mixed diet of insects, small mammals and fruits along with the softer outer part of the coffee cherry but does not digest the inner beans, instead excreting them still covered in some inner layers of the cherry.

Locals then gather the beans -- which come through the 'animal stage' fairly intact -- and sell them on to dealers. It is believed that enzymes in the stomach of the civet add to the coffee's flavour through fermentation of some type.

Kopi Luwak is also known as...

  1. Kape Alamid/Alamid Coffee - Philippines
  2. Weasel Coffee - Vietnam
    (weasel is the local version of Asian Palm Civet)

Philippine Civet or Alamid eats only the ripest coffee cherries. Unable to digest the coffee bean, the alamid graciously deposit

~Philippine Alamid Coffee~

This is a photo of raw Alamid Coffee Beans.


...move over Starbucks!


The Philippines has recently discovered it produces one of the world's most expensive and coveted kinds of coffee. -BBC News Asia Pacific

Alamid Coffee is a kind of Civet coffee made from coffee beans eaten and passed through the digestive tract of Sugar Palm Civet (paradoxorus Philipinensis), or alamid in the local language forages in the mountains and forest of Philippine Archipelago.

In the Philippines, only 500 kg are produced a year and the roasted beans sell for more than $115 a kilogram.

The Finish Product!




...something will treat coffee lovers out there extra special!


Coffee Alamid brand is what you can usually found here in the local markets. It is a natural blend of liberica, exelsa, robusta and arabica beans that are found in abundance in the Philippines.

Noted as the "rarest coffee in the world" the commodity sold by Japan Airlines as a gourmet product on its business class section for 600 dollars for 100 grams and is exported under the Coffee Alamid trademark to China, Taiwan, Australia and the United States.

Shot in the Kowloon (Hong Kong) Harbour City Mall in the Tsim Sha Tsui area at an "upscale" Grocery Store/Shopping Center.

Hukum Beberapa Jenis Makanan

Perbahasan binatang-binatang yang dihukumi halal dan haram untuk digunakan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dari penjelasan para ulama:


1. Gajah.
Madzhab jumhur ulama menyatakan bahwa dia termasuk ke dalam kategori hewan buas yang bertaring. Dan inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah, dan Imam An-Nawawy -rahimahumullah-.

2. Musang (arab: tsa’lab)
Halal, karena walaupun bertaring hanya saja dia tidak mempertakuti dan memangsa manusia atau hewan lainnya dengan taringnya dan dia juga termasuk dari hewan yang baik (arab: thoyyib). Ini merupakan madzhab Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.
[Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni' (3/528), dan Asy-Syarhul Kabir (11/67)]

3. Hyena (arab: Dhib’un)
Pendapat yang paling kuat di kalangan ulama -dan ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’iy dan Imam Ahmad- adalah halal dan bolehnya memakan daging hyena (kucing padang pasir). Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Abi ‘Ammar, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, “Apakah hyena termasuk hewan buruan?”, beliau menjawab, “Ia”. Saya bertanya lagi, “Apakah boleh memakannya?”, beliau menjawab, “Boleh”. Saya kembali bertanya, “Apakah pembolehan ini telah diucapkan oleh Rasulullah?”, beliau menjawab, “Ia”. Diriwayatkan oleh Imam Lima dan dishohihkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan selainnya. Lihat Talkhishul Khabir (4/152).


Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (9/568) dan Imam Asy-Syaukany. Adapun jika ada yang menyatakan bahwa hyena adalah termasuk hewan buas yang bertaring, maka kita jawab bahwa hadits Jabir di atas lebih khusus daripada hadits yang mengharamkan hewan buas yang bertaring sehingga hadits yang bersifat khusus lebih didahulukan. Atau dengan kata lain hyena diperkecualikan dari pengharaman hewan buas yang bertaring. Lihat Nailul Author (8/127) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).
[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/52)]

4. Kelinci.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أُهْدِيَ لَهُ عَضْوٌ مِنْ أَرْنَبٍ، فَقَبِلَهُ

“Sesungguhnya beliau (Nabi) -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah diberikan hadiah berupa potongan daging kelinci, maka beliaupun menerimanya”.

Imam Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny, “Kami tidak mengetahuii ada seorangpun yang mengatakan haramnya (kelinci) kecuali sesuatu yang diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash”.

5. Belalang.
Telah berlalu dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa bangkai belalang termasuk yang diperkecualikan dari bangkai yang diharamkan. Hal ini juga ditunjukkan oleh perkataan Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:

غَزَوْنََا مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ

“Kami berperang bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 7 peperangan sedang kami hanya memakan belalang”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Kadal padang pasir (arab: dhobbun).
Pendapat yang paling kuat yang merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah bahwa dhobbun adalah halal dimakan, hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang dhobbun:

كُلُوْا وَأَطْعِمُوْا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ

“Makanlah dan berikanlah makan dengannya (dhobbun) karena sesungguhnya dia adalah halal”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar)
Adapun keengganan Nabi untuk memakannya, hanyalah dikarenakan dhobbun bukanlah makanan beliau, yakni beliau tidak biasa memakannya. Hal ini sebagaimana yang beliau khabarkan sendiri dalam sabdanya:

لاَ بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

“Tidak apa-apa, hanya saja dia bukanlah makananku”.
Ini yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawy dalam Syarh Muslim (13/97).
[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/529)]

7. Landak.
Asy-Syaikh Al-Fauzan menguatkan pendapat Asy-Syafi’iyyah akan boleh dan halalnya karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan haram dan khobitsnya. Lihat Al-Majmu’ (9/10).

8. Ash-shurod, kodok, semut, burung hud-hud, dan lebah.
Kelima hewan ini haram dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ

“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang membunuh shurod, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).
Adapun larangan membunuh lebah, warid dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.
Dan semua hewan yang haram dibunuh maka memakannyapun haram. Karena tidak mungkin seeokor binatang bisa dimakan kecuali setelah dibunuh.

9. Yarbu’.
Halal. Ini merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, dan merupakan pendapat ‘Urwah, ‘Atho` Al-Khurosany, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir, karena asal dari segala sesuatu adalah halal, dan tidak ada satupun dalil yang menyatakan haramnya yarbu’ ini. Inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (11/71).
[Hasyiyatul Muqni' (3/528) dan Mughniyul Muhtaj (4/299)]

10. Kalajengking, ular, gagak, tikus, tokek, dan cicak.
Karena semua hewan yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa melalui proses penyembelihan adalah haram dimakan, karena seandainya hewan-hewan tersebut halal untuk dimakan maka tentunya Nabi tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya kecuali lewat proses penyembelihan yang syar’iy.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فَي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْاَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالٍْكَلْبُ وَالْحُدَيَّا

“Ada lima (binatang) yang fasik (jelek) yang boleh dibunuh baik dia berada di daerah halal (selain Mekkah) maupun yang haram (Mekkah): Ular, gagak yang belang, tikus, anjing, dan rajawali.” (HR. Muslim)


Adapun cicak dan termasuk di dalamnya tokek, maka telah warid dari hadits Abu Hurairah riwayat Imam Muslin tentang anjuran membunuh wazag (cicak). Lihat keterangan tambahan di: http://al-atsariyyah.com/?p=1161
[Bidayatul Mujtahid (1/344) dan Tafsir Asy-Syinqithy (1/273)]

11. Kura-kura (arab: salhafat), anjing laut, dan kepiting (arab: sarthon).
Telah berlalu penjelasannya pada pendahuluan yang ketiga bahwa ketiga hewan ini adalah halal dimakan.

12. Siput (arab: halazun), serangga kecil, dan kelelawar.
Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: cicak (masuk juga tokek), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan yang sejenis dengan mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih”. Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’i kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih (misalnya ikan dan belalang maka dia boleh dimakan tanpa penyembelihan, pent.)”. (Lihat Al-Muhalla: 7/405)


Maka dari penjelasan Ibnu Hazm di atas kita bise mengetahui tidak bolehnya memakan: Kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk, dan semua serangga lainnya, wallahu a’lam.

Inilah secara ringkas penyebutan beberapa kaidah dalam masalah penghalalan dan pengharaman makanan beserta contoh-contohnya semoga bisa bermanfaat. Penyebutan makanan sampai point ke-25 di atas bukanlah dimaksudkan untuk membatasi bahwa makanan yang haram jumlahnya hanya sekitar itu, akan tetapi yang kami inginkan dengannya hanyalah menjelaskan kaidah umum dalam masalah ini yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghukumi hewan-hewan lain yang tidak sempat kami sebutkan.
Adapun makanan selain hewan dan juga minuman, maka hukumnya telah kami terangkan secara global dalam pendahuluan-pendahuluan di awal pembahasan, yang mana pendahuluan-pendahuluan ini adalah semacam kaidah untuk menghukumi semuanya, wallahul muwaffiq.

Referensi:
1. Al-Ath’imah wa Ahkamis Shoyd wadz Dzaba`ih, karya Syaikh Al-Fauzan, cet. I th. 1408 H/1988 M, penerbit: Maktabah Al-Ma’arif Ar-Riyadh.
2. Al-Majmu’, Imam An-Nawawy, Cet. Terakhir, th. 1415 H/1995 M, penerbut: Dar Ihya`ut Turots Al-Araby.
3. Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd Al-Maliky, cet. X, th. 1408 H/1988 M, penerbit: Darul Kutubil ‘Ilmiyah .
4. Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath’imah wal Masyrubat, karya Muhammad bin Hamd Al-Hamud An-Najdy.

(Artikel selengkapnya boleh dibaca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1418)

Friday, March 12, 2010

Ubatan bahan buangan lembu

“TUHAN berada di dalam najis lembu,” kata Kesari Gumat semasa dia berjalan melintasi makmal yang dipenuhi para penyelidik yang sibuk.

Ada yang tekun mencampurkan bahan buangan haiwan itu bersama herba tertentu sementara beberapa orang lain mengawasi air kencing lembu yang sedang menggelegak di dalam sebuah bikar.

Makmal yang terletak bandar Ahmedabad di barat India itu merupakan salah satu pusat penyelidikan yang mengangkat status suci lembu dan membawa hasil kajian mereka ke satu tahap baru.

Dalam usaha mempromosi aspek praktikal seiring dengan keyakinan spiritual, mereka telah mengembangkan perubatan berasaskan najis dan air kencing haiwan itu. Ini sekali gus menjadikannya satu rangkaian produk yang dipercayai boleh menyembuhkan pelbagai penyakit daripada masalah mulut berbau hinggalah kanser.

“Formula ini bukannya sesuatu yang baru,” kata Gumat. “Ia terkandung dalam kitab suci Hindu. Kami hanya mengembangkannya melalui kajian saintifik.”

Bahan mentahnya dihasilkan daripada bahan buangan lebih 300 ekor lembu di sekitar kawasan pusat berkenaan.

Pengunjung dikehendaki membuka kasut dan stokin sebelum masuk dan memberanikan diri berjalan berkaki ayam melintasi hamparan najis separa lembut yang mula mengering akibat pancaran matahari.

“Berjalan di atas najis lembu yang masih baru amat menyihatkan,” tegas Gumat. “Ia mampu membunuh kuman dan bakteria serta menyembuhkan luka. Najis lembu juga merupakan skrab untuk membuang sel-sel kulit mati dan meningkatkan sistem peredaran darah.”

Senarai turutan aplikasinya mengikut Gumat, mempunyai satu senarai yang agak panjang. Ia meliputi ubat-ubatan sehinggalah kelengkapan dandanan diri seperti sabun, syampu, ubat gigi, kayu setanggi dan ubat nyamuk.

Produk-produk itu menerima pujian dalam kalangan kumpulan-kumpulan nasionalis Hindu. Ini termasuklah kumpulan terbesar seperti Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) yang melancarkan minuman ringan sendiri berasaskan urin lembu sebagai alternatif kepada Coca-Cola dan Pepsi.

Gau Jal atau air kencing lembu telah dihasilkan di Jabatan Perlindungan Lembu RSS, sebuah kemudahan penyelidikan yang terletak di utara bandar Haridwar, bersebelahan sungai suci Gangga.

“Ia akan mengakhiri penguasaan minuman bikarbonat di pasaran,” ramal Pengarah Kemudahan Pasaran, Om Prakash.

Proses pengeluaran Gou Jal masih menunggu kelulusan daripada kerajaan. Sementara itu Prakash memberitahu, pasukannya kini menumpukan proses pembungkusan, pemasaran dan pengawetan untuk mengelakkan minuman itu rosak akibat musim panas di India.

Lembu dianggap sebagai haiwan suci oleh majoriti penganut agama Hindu. Sehubungan itu mereka dihalang daripada makan dagingnya, namun penggunaan bahan buangan haiwan itu dibenarkan seperti produk tenusu.

Lazimnya, najis lembu dibiarkan kering dalam masa lebih seminggu, sebelum ia dibakar pada suhu yang tinggi untuk membunuh kuman dan bakteria. Produk akhir najis itu dijadikan serbuk sebelum ia diadun bersama bahan-bahan lain untuk membuat ubat-ubatan dan kelengkapan dandanan diri.

Sementara itu, urin haiwan tersebut akan didihkan untuk membuang segala kotoran.

Raghav Gandhi, yang mengetuai Jabatan Nutrisi Lembu di salah sebuah pusat penyelidikan di Ahmedabad menegaskan, proses tersebut bermula lebih awal sebelum sisa-sisa itu dikumpulkan.

“Ia mungkin kelihatan seperti kita mengambil sisa kumuhan haiwan ini untuk membuat ubat-ubatan tetapi proses berkenaan tidak semudah yang disangka,” kata Ghandi.

“Kita perlu melayan lembu itu pada setiap minit,” kata Ghandi yang memberi lembu-lembunya makan rumput yang dicelupkan ke dalam susu, herba dengan gula tebu yang tidak ditapis dan air yang mengandungi garam galian.

Dia juga menyanyikan lagu kepada haiwan-haiwan itu.

“Ia amat mudah,” kata Ghandi. “Apa yang dimakan itulah yang dikeluarkan. Najis lembu mengandungi pelbagai nutrien dan mineral penting. Air kencingnya pula mempunyai ciri-ciri penyahjangkit penyakit.”

Pakar-pakar perubatan pula berbelah bagi mengenai kebaikan dalam bidang perubatan. Ada antaranya yang menunjukkan bahawa perawatan kuratif itu belum pernah pernah disahkan oleh mana-mana badan bebas.

Bagaimanapun, ada kalangan mereka yang melihat perawatan sedemikian tidak memudaratkan pesakit dan menganggap produk-produk itu mampu membantu mereka.

“Saya pernah terbaca mengenai kelebihan air kencing dan najis lembu,” kata Mayur Patel, seorang pakar kanser di Pusat Penyelidikan Kanser Negeri Gujerat.

“Seorang pesakit saya mengambilnya dan saya membenarkan mereka melakukannya. Ia hanya merupakan satu kaedah alternatif dan tidak mempunyai kesan sampingan,” kata Patel.

Seorang suri rumah di Ahmedabad, Nila Parmar, 42, memulakan harinya dengan mengambil suntikan air kencing lembu sejak bertahun-tahun lamanya. Wanita itu mengakui tidak mempunyai sebarang keraguan tentang keberkesanannnya.

“Percayalah, saya pernah mencuba kaedah perawatan alopati dan homeopati untuk mengubati penyakit yang dialami namun ia tidak berkesan,” ujarnya.

“Saya sering bertukar-tukar doktor selama lebih dua tahun tetapi hanya gau mutra (air kencing) yang berjaya menyembuhkan penyakit saya,” katanya. – AFP

Pandangan Fiqh

Asasnya: Setiap yang najis adalah haram digunakan. Ini termasuk penggunaan najis seperti air kencing dan tinja binatang untuk tujuan perubatan. Namun yang demikian jika terbukti tiada cara lain bagi menggantikan ubat tersebut maka penggunaan ubat tersebut harus digunakan dalam kadar yang minimal.